Mon, Feb 8th 2010, 15:11
Lokomotif KA Aceh Mulai Berkarat
* Didesak Terus Jalan Meski Rel 12 Kilometer
Berkarat
Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda, Minggu (7/2) melihat pipa minyak lokomotif kereta api di Krueng Geukueh, Aceh Utara yang sudah mulai berkarat. SERAMBI/HERIANTO
Kondisi terkini tentang nasib proyek kereta api Aceh diungkapkan oleh Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda kepada Serambi, Minggu (7/2) sekembali dari meninjau lokomotif kereta api tersebut di Krueng Geukueh, Aceh Utara. Kondisi lokomotif maupun fasilitas penunjang di terminal kereta api, menurut Sulaiman semakin memprihatinkan karena tak ada perawatan. “Kaca jendela terminal mini di dekat Pasar Krueng Geukuh, banyak yang sudah pecah. Yang lebih parah lagi rel yang telah dibangun yang melintas di depan Pasar Krueng Geukueh, sebagian sudah dijadikan lapak jualan oleh pedagang kecil,” ungkap Sulaiman Abda.
Selain terminal, kondisi lokomotif yang dibeli dua tahun lalu seharga Rp 20 miliar juga terancam jadi onggokan besi tua. Saat ini, beberapa komponen lokomotif asal Jerman itu, seperti pipa minyak di bawah gerbong ada yang sudah karatan. “Saya pikir Dishubkomintel Aceh harus segera mengoperasikan lokomotif itu supaya ada perawatan rutin dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” sarannya.
Kondisi memprihatinkan itu, menurut Sulaiman harus segera disikapi oleh Dishubkomintel Aceh bersama Dishubkomintel Aceh Utara dengan berkoordinasi dengan Camat Dewantara dan Satpol PP Aceh Utara. “Warga yang kini membuka lapak jualan di atas rel harus segera ditertibkan, karena kalau dibiarkan akan sangat menyulitkan pada saat kereta api itu hendak dioperasikan nantinya. Bisa-bisa mereka akan minta ganti rugi uang pemindahan,” kata politisi Partai Golkar tersebut, sambil mencontohkan kasus jambo jagong di kawasan Lhoknga, Aceh Besar yang terkena proyek jalan Banda Aceh-Calang. “Penjual jagung bakar di pinggir jalan Lhoknga minta ganti rugi uang pemindahan padahal tanah lokasi jualan adalah tanah negara,” sebutnya. Lokomotif kereta api Aceh yang tiba di Krueng Geukueh pada akhir 2008 kurang mendapat pemeliharaan. Hingga kini belum ada kejelasan siapa yang harus bertanggungjawab untuk memeliharanya, karena Dirjen Perkeretaapian Dephub belum menetapkan perangkat organisasinya.
Harus dioperasikan
Tahun ini, ungkap Sulaiman Abda, dalam APBN 2010, Dephub mengalokasikan dana subsidi untuk kereta api Aceh sebesar Rp 2 miliar. Karena dana subsidinya sudah tersedia, maka Dishubkomintel Aceh diharap segera mengoperasikan lokomotif dan gerbong penumpang kereta api tersebut, meskipun rel yang bisa dilintasi baru 12 kilometer.
“Jika lokomotif itu tidak dioperasikan tahun ini, bisa semakin menurunkan kepercayaan rakyat kepada Pemerintah Pusat dan Dishubkomintel Aceh. Bisa muncul penilaian kalau pemerintah tidak serius melaksanakan program itu,” tandas Sulaiman. Dampak buruk lainnya, rel kereta api yang telah dibangun sepanjang 12 kilometer bisa diduduki kembali oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Seperti kondisi sekerang, rel di dekat terminal Krueng Geukueh, sudah ada yang dijadikan lapak jualan.
Operasi tahun ini
Kadishubkomintel Aceh melalui Kasubdin Darat, Ir Sanasi yang ditanyai Serambi mengatakan, pengoperasian kereta api Aceh akan dilakukan tahun 2010 ini, namun belum ada jadwal pasti. Pengoperasiannya sangat tergantung kepada hasil penguatan rel yang telah dibangun rekanan dan persiapan prasarana dan sarana pendukung lainnya yang akan dibangun di tiga terminal mini, masing-masing di Krueng Mane, Bungkah, dan Krueng Geukueh.
Tahun ini, lanjut Sanasi, untuk melanjutkan proyek kereta api Aceh, dialokasikan dana Rp 49 miliar dalam APBN. Dari dana itu, hanya Rp 8 miliar dialokasikan untuk menambah trek baru atau rel kereta api yang baru sepanjang 5 kilometer arah Bireuen. Untuk penguatan prasarana dan sarana infrastruktur dialokasikan Rp 39 miliar. Sedangkan dana subsidi untuk pengoperasian lokomotif sebesar Rp 2 miliar.
Pengoperasian kereta api tersebut akan dilakukan setelah penguatan sarana pendukungnya selesai dikerjakan dan dipastikan rel sepanjang 12 kilometer yang telah dibangun dinyatakan aman oleh pihak berwenang. “Ini sangat penting untuk meminimalisir gangguan teknis yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan saat lokomotif kereta api dioperasikan,” demikian Sanasi.(her)
Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.