Sun, Apr 12th 2009, 09:00

Mawar

Oleh Halim Mubary

DALAM balutan gaun panjang menyentuh mata kaki, kerudung warna ungu, gadis itu berdiri di sisi jembatan beton. Jembatan sepanjang 25 meter yang lebarnya tiga meter itu, di bawahnya mengalir air bening di sela-sela bebatuan. Membaurkan warna lumut yang sudah menahun. Seperti biasa, Mawar mengambil sesuatu dari tas kecilnya dan berdiri mematung. Pandangannya merunduk ke bawah jembatan. Tangannya bertele di besi jembatan. Seolah dia sedang menghitung air yang mengalir di bawahnya. Tangannya sibuk menulis sesuatu di atas buku agak mungil bersampul biru.

Lima hingga sepuluh menit, dia terpekur begitu khidmat ke bawah jembatan. Orang-orang kampung yang lewat, hanya melirik dan menatapnya sekilas. Tanpa tanya, lalu mereka berlalu meninggalkan Mawar. Tak seorang pun warga yang mau berhenti sejenak dan mendekati gadis itu untuk sekadar menegurnya. Atau memang orang-orang itu merasa tidak perlu tahu tentang apa yang dilakukannya? Namun, tak ada kesan takut pada wajah warga, bila melintasi jembatan itu. Mawar selalu datang ke jembatan yang terletak di sebelah utara gampong setiap kamis sore. Orang-orang kampong mulai hapal kebiasaan Mawar yang aneh itu.

“Gadis itu tidak gila, juga tidak normal,” ujar Pang Leman yang sehari-hari bertugas menjaga tali air di gampung itu ketika kami berbincang di di warung kopi di dekat jembatan itu. Lelaki itu membeberkan kebiasaan tak wajar Mawar sejak sekitar tiga tahun belakangan ini. “ Saat itu orang-orang gampong menemukan dua sosok mayat yang mengapung di bawah jembatan. Kondisinya sudah membusuk dan terlihat bekas luka tembakan di beberapa bagian tubuh. Menebarkan aroma tak sedap,” kisah Pang Leman.

Kedua mayat itu, adalah mayat terakhir yang ditemukan warga gampong di sana . “Berarti ada banyak lagi mayat lainnya yang ditemukan di sana?” selidikku penasaranyang diangguk Pang Leman.

“Dalam seminggu, kami menemukan dua sampai tiga mayat yang mengapung di sana . Semuanya dengan bekas luka tembakan di tubuh,”sambungnya sambil mengunyah timphan aso kaya.

“Lalu, kenapa gadis itu selalu ada di jembatan seminggu sekali?” “Menurut cerita keluarganya, Mawar di sana ingin bertemu dengan seseorang!” jelas Pang Leman. “Ya, semacam halusinasi…”

“Tapi tak ada orang di sana , selain dirinya.” Pang Leman terdiam sesaat. “Satu dari mayat yang terakhir ditemukan hari kamis itu tunangannya yang hanya tinggal beberapa hari lagi mereka akan menikah.

***

Tugasku melakukan survey kelayakan sungai untuk pembangunan irigasi selama sebulan, tuntaslahsudah. Aku besok akan meninggalkan gampong itu, dan setelah menyelesaikan semua laporan, sorenya bertekat untuk menemui keluarga dan gadis itu di rumahnya. Ibu Mawar menyambutku ramah, dan kulihat Mawar asyik merangkai bunga. Ia kaget ketika melihatku dan secepat kilat ia melesat dan menghilang ke dalam kamarnya. Menurut orangtuanya, Mawar sangat suka dengan ikebana,. Ada banyak bunga yang sudah dirangkai nya dan dipajang di ruang tamu. Ternyata orangtuanya serasi member namnya dengan Mawar.

Ibu Mawar dengan wajah sedih menceritakan selama ini Mawar jarang ke luar rumah, kecuali ke jembatan gampong itu. “Kami semua sudah mencegahnya, karena malu diomongi orang di sini. Tapi dia tak peduli,” ketus ibuMawar.

Mawar pernah kuliah dua tahun, namun karena sering bolos sehingga ia DO. Dan sejak tunangannya dtemukan jadi mayat, Mawar tidak lagi bicara.

“Bu, bagaimana kalau… kalau aku ingin menggantikan kenangan Mawar yang dulu itu.” “Maksud anak ini?” sela ibu separuh baya itu dengan raut wajah tak percaya. “Ya… aku ingin berbagi masa depan dengannya.”

“Tapi… Nak,” ujarnya seperti tak percaya. Sebelum meninggalkan gampong itu, besoknya aku minta pamit ke rumah Mawar. Aku melihat seraut wajah yang mempesona. Gadis itu menyodorkan buku hariannya tanpa berkata dan terlihat malu-malu. Lalu seperti kemarin, dia kembali melesat masuk ke kamarnya.

“Menjelang tengah malam, rumah kami didatangi tiga laki-laki berseragam dan bersenjata. Aku dipaksa untuk melayani mereka...” sepenggal catatan di buku harian itu yang aku sangat memahaminya.

* Halim Mubary; peminat sastra, dosen STAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen