Sun, Apr 26th 2009, 09:22
Apresiasi
“Bola dan Sepatu” Fathurrahman
Oleh Medri Oesnoe
Aku, bola dan sepatu, kumpulan puisi Fathurrahman Helmi (13), membuat kita harus berkaca, saling berhadapan dan saling baca untuk berbagi. Sebagai pelajar yang baru SMP itu begitu telaten memilih kata untuk mengungkapkan realitas sekelilingnya, mengevaluasi kondisi sosial budaya dan mencitrakan kembali. Kepolosannya telah mampu membuka tabir “rahasia-rahasia jiwa”, sekaligus mampu membangun empati terhadap orang lain. Juga yang paling tersembunyi sekalipun dalam dirinya, dan menggiring kita hanyut dalam telaga kehidupan itu-mulai perjalan perjalanan personal hingga kehidupan sosial dikabarkan kepada pembaca.
Ia mengingatkan sebuah kejujuran atas hidup, dan mengajak untuk memposisikan diri dan mengingatnya secara terus-menerus. Penyair bocah Fathur adalah potensi yang sangat mengagumkan. Bagaimana ia mampu secara apik menuangkan pikiran, merumuskan lalu menerjemahkan secara imajinatif dalam setiap puisinya secara kreatifnya. Sepintas kita memang harus mengabaikan teoritis sastra karena Fathur mungkin belum mengerti konsep kesusastraan yang lebih mengutamakan nilai estetika, makna konotasi, dan pencitraan. Sebagaimana kita pahami bahwa pada dasarnya fungsi karya sastra bersifat ganda yaitu bermanfaat bagi pembacanya dan juga sebagai sarana hiburan.
Sajak-sajak Fathur yang polos, naratif, konkret serta berterus-terang telah membuat makna lebih mudah. Sehingga membuat kita saling berhadapan dan saling membaca untuk saling berbagi. Meskipun Fathur dilahirkan dari darah seniman, namun bocah itu menulis sajaknya secara otodidak. Inilah yang member kemerdekaan sekaligus mengagumkan. Sekali lagi, sebagai karya sastra, ia mampu mengunggapkan segala kesimpang-siurannya kehidupan ini. Puisinya menukik tajam seperti rajawali menyambar di tengah belantara.
Sajak Sepakbola, member semangat hidup, mengajak untuk tak berputus asa. Dan hakikatnya memang seperti itu hidup; Aku berlari/terus menendang/bagaikan senapan yang memuntahkan peluru/gawang yang ku incar/dengan semangat menggebu/walau tidak gol/aku akan terus berusaha/bola yang menggelinding/bagaikan hidup yang terus berlanjut/tidak ada kata menyerah sebelum pertandingan usai.
Kita juga bisa menyimak sajak; Hidup, dan Fakar yang menyejukkan hati, yang memberikan angin segar agar kita dapat memaknai kehidupan itu sendiri. Fathur juga mengultimatum para koruptor dalam saja Jangan Kau Buat Lagi Korupsi. Ia begitu risau dan duka sekaligus berharap untuk perbaikan ketidakmenentuan kondisi hukum dan politik sebagai pranata sosial budaya yang terjadi dalam kurun waktu yang lama, dapat berubah. Ia mengajak kita dapat ke luar dari keadaan tak menentu ini. Jangan kalian buat lagi korupsi/kalian menentang hukum politik/apakah kalian senang membuat korupsi/kalian akan sengsara dalam penjara/seperti tikus terpojok oleh kucing/di sudut tembok. Seperti diungkap dalam saja: Wahai Wakil Rakyat.
Kalau kita telaah puisi di atas lebih dalam maka pemberontakan, perlawanan atau gugatan yang dilakukan penyair melalui sajak bukanlah tindakan semu karena tindakan tersebut berpegang pada upaya mengabdi kepada nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan, bukan mengabdi pada orang per orang. Di sinilah kejujuran nurani terhadap realitas kehidupan dan menghormati kemanusiaan.
Dalam sajak Doa (mengenang 4 tahun tsunami) terjadi kesinambungan tema dari tema kemanusiaan ke individual dengan menampilkan perjuangan religius yang mampu mambangunkan kelelapan rohani, sehingga jiwa mampu menangkapnya, menyanyikan sepanjang waktu. Aku bersimpuh dan berdoa pada Tuhan/semoga damai akan abadi/dan para arwah tsunami/berada di sisi-Mu/amin. Sajak ini mencerminkan kepasrahan atas Kemahakuasaan sang pemilik alam. Dan menjadi penting untuk menemukan cahaya kesadaran agar dapat menerangi seluruh qalbu. Betapa pendeknya usia manusia, betapa kekalnya Tuhan, dan akhirnya manusia harus kembali kepada Ilahi. Sedangkan sajaknya 15 Tahun Perkawinan Ayah Bunda, penyair mengungkapkan keta’ziman seoranga anak yang mengajak kita untuk membangunkan kelelapan rohani, // .ulang tahun perkawinanmu/ bagaikan angin segar menerpa jantungku/ semoga kau orang tua yang dapat ku banggakan/ sampai akhir hayatku/ terimakasih ayah bunda//. Hal sama juga diungkapkannya dalam sajak Ibu. Ia mempermenungkan makna kehidupan dan perjuangan dan kasih sayang seorang ibu yang tanpa batas. Fathurrahman Helmi, putra slung Helmi Hass dan D. Keumalawati yang dilahirkan 21 Juni 1995 di Meulaboh. Siswa kelas 2 SMPN 6 Banda Aceh itu, penyair berbakat juga begitu mengagumkan dalam usia yang belia.
* MEDRI, pemerhati sastra, bekerja di Balai Bahasa Provinsi Aceh.
Ia mengingatkan sebuah kejujuran atas hidup, dan mengajak untuk memposisikan diri dan mengingatnya secara terus-menerus. Penyair bocah Fathur adalah potensi yang sangat mengagumkan. Bagaimana ia mampu secara apik menuangkan pikiran, merumuskan lalu menerjemahkan secara imajinatif dalam setiap puisinya secara kreatifnya. Sepintas kita memang harus mengabaikan teoritis sastra karena Fathur mungkin belum mengerti konsep kesusastraan yang lebih mengutamakan nilai estetika, makna konotasi, dan pencitraan. Sebagaimana kita pahami bahwa pada dasarnya fungsi karya sastra bersifat ganda yaitu bermanfaat bagi pembacanya dan juga sebagai sarana hiburan.
Sajak-sajak Fathur yang polos, naratif, konkret serta berterus-terang telah membuat makna lebih mudah. Sehingga membuat kita saling berhadapan dan saling membaca untuk saling berbagi. Meskipun Fathur dilahirkan dari darah seniman, namun bocah itu menulis sajaknya secara otodidak. Inilah yang member kemerdekaan sekaligus mengagumkan. Sekali lagi, sebagai karya sastra, ia mampu mengunggapkan segala kesimpang-siurannya kehidupan ini. Puisinya menukik tajam seperti rajawali menyambar di tengah belantara.
Sajak Sepakbola, member semangat hidup, mengajak untuk tak berputus asa. Dan hakikatnya memang seperti itu hidup; Aku berlari/terus menendang/bagaikan senapan yang memuntahkan peluru/gawang yang ku incar/dengan semangat menggebu/walau tidak gol/aku akan terus berusaha/bola yang menggelinding/bagaikan hidup yang terus berlanjut/tidak ada kata menyerah sebelum pertandingan usai.
Kita juga bisa menyimak sajak; Hidup, dan Fakar yang menyejukkan hati, yang memberikan angin segar agar kita dapat memaknai kehidupan itu sendiri. Fathur juga mengultimatum para koruptor dalam saja Jangan Kau Buat Lagi Korupsi. Ia begitu risau dan duka sekaligus berharap untuk perbaikan ketidakmenentuan kondisi hukum dan politik sebagai pranata sosial budaya yang terjadi dalam kurun waktu yang lama, dapat berubah. Ia mengajak kita dapat ke luar dari keadaan tak menentu ini. Jangan kalian buat lagi korupsi/kalian menentang hukum politik/apakah kalian senang membuat korupsi/kalian akan sengsara dalam penjara/seperti tikus terpojok oleh kucing/di sudut tembok. Seperti diungkap dalam saja: Wahai Wakil Rakyat.
Kalau kita telaah puisi di atas lebih dalam maka pemberontakan, perlawanan atau gugatan yang dilakukan penyair melalui sajak bukanlah tindakan semu karena tindakan tersebut berpegang pada upaya mengabdi kepada nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan, bukan mengabdi pada orang per orang. Di sinilah kejujuran nurani terhadap realitas kehidupan dan menghormati kemanusiaan.
Dalam sajak Doa (mengenang 4 tahun tsunami) terjadi kesinambungan tema dari tema kemanusiaan ke individual dengan menampilkan perjuangan religius yang mampu mambangunkan kelelapan rohani, sehingga jiwa mampu menangkapnya, menyanyikan sepanjang waktu. Aku bersimpuh dan berdoa pada Tuhan/semoga damai akan abadi/dan para arwah tsunami/berada di sisi-Mu/amin. Sajak ini mencerminkan kepasrahan atas Kemahakuasaan sang pemilik alam. Dan menjadi penting untuk menemukan cahaya kesadaran agar dapat menerangi seluruh qalbu. Betapa pendeknya usia manusia, betapa kekalnya Tuhan, dan akhirnya manusia harus kembali kepada Ilahi. Sedangkan sajaknya 15 Tahun Perkawinan Ayah Bunda, penyair mengungkapkan keta’ziman seoranga anak yang mengajak kita untuk membangunkan kelelapan rohani, // .ulang tahun perkawinanmu/ bagaikan angin segar menerpa jantungku/ semoga kau orang tua yang dapat ku banggakan/ sampai akhir hayatku/ terimakasih ayah bunda//. Hal sama juga diungkapkannya dalam sajak Ibu. Ia mempermenungkan makna kehidupan dan perjuangan dan kasih sayang seorang ibu yang tanpa batas. Fathurrahman Helmi, putra slung Helmi Hass dan D. Keumalawati yang dilahirkan 21 Juni 1995 di Meulaboh. Siswa kelas 2 SMPN 6 Banda Aceh itu, penyair berbakat juga begitu mengagumkan dalam usia yang belia.
* MEDRI, pemerhati sastra, bekerja di Balai Bahasa Provinsi Aceh.