27 April 2009, 09:18
Wagub:
PKA Berbeda dengan Pameran Pembangunan
JAKARTA - Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar menegaskan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang dijadwalkan berlangsung pada 2-11 Agustus 2009 harus berbeda dengan kegiatan Pameran Pembangunan. “PKA adalah perhelatan budaya, tidak sama dengan pameran pembangunan. PKA diharapkan benar-benar mampu memperlihatkan khasanah kebudayaan Aceh pasca konflik dan tsunami,” ujar Wagub menjawab Serambi, Sabtu di Jakarta.
Wagub sependapat bahwa PKA 2009 menampilkan pertautan Aceh dengan bangsa-bangsa lain, baik regional maupun internasional dengan mengundang delegasi seni dari daerah-daerah yang dimaksud. Ia mencontohkan, Aceh memiliki kaitan dengan Demak, Banten, Jayakarta (Jakarta) dan lain-lain. Begitu juga di lintasan internasional, Aceh pernah memiliki hubungan dengan Turki, Belanda, Perancis, Inggris, Portugis dan sebagainya, termasuk Finlandia pada saat penandatanganan Kesepakatan Damai (MoU Helsinki) 2005 silam.
“Kita tentu akan lihat lagi pertautan itu, sebagai sebuah perjalanan sejarah Aceh,” sebut Muhammad Nazar, yang tampak sangat menguasai riwayat Aceh dalam pergaulannya dengan dunia internasional. Nazar, yang pernah belajar di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh merupakan satu dari sedikit tokoh di Indonesia menguasai sejarah sastra Arab. Sebelumnya dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta, seniman Aceh mengusulkan agar forum PKA mengakomodasi kehadiran delegasi seni dari Arab, Cina, Eropa, Hindi, karena dinilai negara-negara tersebut memiliki pertautan antropologis dengan Aceh.
Jajaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) menyatakan tidak mengetahui secara persis rencana pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Hal itu diungkapkan Direktur Usaha Pariwisata, Winarno Sudjas, saat bertemu dengan delegasi Komisi F DPRA, terdiri dari Burhanuddin, Azhari Basyar dan Yusrizal Ibrahim.
Mengutip hasil pertemuan, Yusrizal menyayangkan, informasi tentang PKA ternyata sangat terbatas di Budpar. “Padahal tersedia dana dari APBN untuk kegiatan kebudayaan dan pariwisata di daerah-daerah,” ujar Yusrizal. Ketua Komisi F Burhanuddin mengusulkan agar Pemerintah Aceh menindaklanjuti kemungkinan memperoleh dana PKA dari APBN. “Pejabat Budpar juga mengusulkan agar dibuat perispan yang matang untuk sebuah kerja kebudayaan seperti PKA. Jangan sampai ada kesan terburu-buru,” ujar Ketua Komisi F Burhanuddin.
Penyair Aceh
Sementara itu, dua penyair Aceh, Mustafa Ismail dan Fikar W Eda diundang sebagai pembicara dalam diksusi tentang “Chairil Anwar” dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) I Komunitas Planet Senen (Kops) di Jakarta, Senin (27/4). Ketua Panitia, Irmansyah, menjelaskan peringatan HUT tersebut juga diisi pembacaan puisi, workshop musikalisasi puisi. “Kehadiran kawan-kawan Aceh sangat memberi warna acara ini,” ujar Irmansyah, penyair dari Suamtera Barat.(fik)
Wagub sependapat bahwa PKA 2009 menampilkan pertautan Aceh dengan bangsa-bangsa lain, baik regional maupun internasional dengan mengundang delegasi seni dari daerah-daerah yang dimaksud. Ia mencontohkan, Aceh memiliki kaitan dengan Demak, Banten, Jayakarta (Jakarta) dan lain-lain. Begitu juga di lintasan internasional, Aceh pernah memiliki hubungan dengan Turki, Belanda, Perancis, Inggris, Portugis dan sebagainya, termasuk Finlandia pada saat penandatanganan Kesepakatan Damai (MoU Helsinki) 2005 silam.
“Kita tentu akan lihat lagi pertautan itu, sebagai sebuah perjalanan sejarah Aceh,” sebut Muhammad Nazar, yang tampak sangat menguasai riwayat Aceh dalam pergaulannya dengan dunia internasional. Nazar, yang pernah belajar di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh merupakan satu dari sedikit tokoh di Indonesia menguasai sejarah sastra Arab. Sebelumnya dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta, seniman Aceh mengusulkan agar forum PKA mengakomodasi kehadiran delegasi seni dari Arab, Cina, Eropa, Hindi, karena dinilai negara-negara tersebut memiliki pertautan antropologis dengan Aceh.
Jajaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) menyatakan tidak mengetahui secara persis rencana pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Hal itu diungkapkan Direktur Usaha Pariwisata, Winarno Sudjas, saat bertemu dengan delegasi Komisi F DPRA, terdiri dari Burhanuddin, Azhari Basyar dan Yusrizal Ibrahim.
Mengutip hasil pertemuan, Yusrizal menyayangkan, informasi tentang PKA ternyata sangat terbatas di Budpar. “Padahal tersedia dana dari APBN untuk kegiatan kebudayaan dan pariwisata di daerah-daerah,” ujar Yusrizal. Ketua Komisi F Burhanuddin mengusulkan agar Pemerintah Aceh menindaklanjuti kemungkinan memperoleh dana PKA dari APBN. “Pejabat Budpar juga mengusulkan agar dibuat perispan yang matang untuk sebuah kerja kebudayaan seperti PKA. Jangan sampai ada kesan terburu-buru,” ujar Ketua Komisi F Burhanuddin.
Penyair Aceh
Sementara itu, dua penyair Aceh, Mustafa Ismail dan Fikar W Eda diundang sebagai pembicara dalam diksusi tentang “Chairil Anwar” dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) I Komunitas Planet Senen (Kops) di Jakarta, Senin (27/4). Ketua Panitia, Irmansyah, menjelaskan peringatan HUT tersebut juga diisi pembacaan puisi, workshop musikalisasi puisi. “Kehadiran kawan-kawan Aceh sangat memberi warna acara ini,” ujar Irmansyah, penyair dari Suamtera Barat.(fik)