27 May 2009, 10:48
Resensi: Jangan Berikan Mereka Rencong
Judul : Puisi-puisi Fikar W Eda Rencong
Penulis : Fikar W Eda
Penerbit : KaSUHA
Cetakan : Edisi Khusus November 2008
Tebal : xcv+160 halaman
Buku puisi Fikar W Eda adalah sebuah estetika yang menghibur atas penderitaan yang dialami manusia Aceh. Puisi Fikar dalam buku ini menjadi sebuah cuplikan pahit dan sebagiannya adalah nestapa yang direkam Fikar atas semua yang pernah menimpa Aceh terutama konflik dan tsunami. Schopenghoer, seorang filsuf Jerman, mengatakan bahwa pangkal dari penderitaan manusia di dunia ini karena keinginan manusia (willingness), sementara alat pemuas kebutuhan tersebut sangat terbatas. Kondisi ini membuat manusia frustrasi, stres, depresi, bahkan kekurangan sarana memenuhi kebutuhan tersebut telah menjulut manusia-manusia yang punya kelebihan untuk merampas sarana yang sangat terbatas tersebut.
Filsuf eksistensialisme ini menyatakan bahwa kendati pun carut marut itu terus menghantui manusia sepanjang zaman, namun masih ada naungan atau payung yang diletakkan alam dan juga Tuhan agar manusia bisa berlindung dari kejamnya keinginan sesama manusia dan juga diri sendri. Payung dan naungan itu adalah estetika dan etika. Etika berperan untuk memberikan sebuah kenyamanan kepada manusia yang letih ketika harus memenuhi keinginannya. Jika Anda ingin mencintai seorang perempuan, namun ia menolak cinta dan keinginan Anda tersebut, maka obat estetika dapat menawarkan sedikit kesejukan, misalnya, berupa lagu-lagu cengeng-cinta yang akan menghibur dan seolah-olah diciptakan untuk bahkan sangat sesuai dengan kondisi Anda. Demikian juga pada masa diktator Suharto dulu, lagu Iwan Fals seolah sebuah puisi kecil yang dirangkum atas---seolah-olah---keinginan frustrasi yang sedang dirasakan bangsa Indonesia. Begitu pula lagu Bento, Bongkar, dan lainnya. Namun, jalan keluar ini sifatnya sangat sementara dan temporer, tidak akan mampu merawat kesejukan itu untuk selamanya.
Jalan keluar kedua adalah dengan cara etika termasuk di dalamnya agama yang mengatur pengendalian keinginan manusia lewat peraturan olah jiwa bahkan dalam beberapa tempat dikawal oleh negara. Islam mengajarkan agar manusia selalu berpuasa dan bersyukur atas apa pun yang menimpa dan keinginan yang tidak tersampaikan, sementara Budha mengatakan untuk memasuki Nirwana maka keinginan raga harus dikendalikan secara sistematis dan ketat, karenanya kehidupan Biksu amat sederhana: kepala digundulkan, makan seadanya, baju juga yang sederhana. Demikian juga dengan Kristen mengajarkan cara untuk mengendalikan keinginan dengan memperbesar cinta kasih, hampir seluruh agama dan etika memiliki caranya sendiri untuk meminimalkan keinginan tersebut.
Fikar W Eda dengan buku kumpulan puisinya yang bertajuk Rencong, adalah salah satu seniman yang sedang menjalankan peran estetika dalam kancah kesedihan dan derita panjang Orang Aceh, dari konflik yang merupakan buatan manusia sampai bencana agung yang telah mengubah seluruh wajah Aceh pesisir menjadi porak poranda dan terpaksa berbenah dalam suasana yang lebih sedikit sosialis.
Buku setebal 80 halaman berbahasa Indonesia dan 80 halaman berbahasa Inggris ini berhasil menghadirkan wajah Aceh dalam dua episode besar: konflik dan tsunami. Jika membaca buku ini, Fikar memperlihatkan dirinya sebagai seorang sejarawan yang kebetulan memilih jalur penyair untuk mencatat sebagian mozaik kemalangan dan duka nestapa yang dialami Aceh dalam melewati dua etape, konflik dan tsunami.
Dan Fikar sebenarnya juga seorang aktivis terutama dalam konflik Aceh yang penuh dengan duka-luka dari orang-orang yang tercerabut dari dunia indah ke neraka penindasan. Cuma dia memilih langkah aktivis itu dengan membuat puisi untuk merentang dan merekam semua kesombongan angkuh dari sebuah peran.
Buku Rencong ini kendatipun dominan melipur lara dan sekaligus menghibur dari ranah orang Aceh, namun memiliki nuansa nasional dan internasional yang begitu kental. Tak kurang dari Rendra, Gola Gong, Oyos Saroso H.N, DR Cristomy dari UI, yang membuat pengantar untuk menuju puisi Fikar. Bukan itu saja, puisi - puisi yang dibuat antara tahun 1994 - 2006 itu juga dibedah dalam kaca-mata ilmiah oleh kolega Fikar dari negara jiran, tercatat Prof. Dr. Siti Zaionon Ismail (UKM), Dr Ahmad Kamal Abdullah PhD yang juga seorang penyair. Dan yang lebih penting lagi, buku puisi yang diterbitkan oleh KaSUHA ini juga diterbitkan dalam dua bahasa (Indonesia-Inggris) dalam satu buku. Namun, buku ini menjadi begitu formil, karena memuat kata pengantar dari Wakil Gubernur Aceh. Saya tak tahu apa yang melatar belakangi kebanyakan seniman Aceh yang selalu meminta pengantar dari aparat pemerintah.
Buku yang berisi 60 buah puisi yang dibagi dalam tiga episode yaitu Rencong sebanyak 32 puisi, episode Rajah 15 puisi, dan episode Tsunami sebanyak 13 puisi. Puisi dikemas paling tidak dalam tiga tema besar, yaitu konflik dan damai yang semuanya masuk dalam episode Rencong. Tema ini banyak mengangkat dan mengusung sebuah kengerian sejarah yang pernah ditoreh orang-orang yang memiliki kuasa atas harta dan nyawa Orang Aceh.
Yang menarik tema ini dibuka dengan sebuah puisi Salam Damai yang dibuat pada tahun 2000. Puisi ini dibuat ketika MoU Helsinki belum berlangsung. Mungkin puisi ini lahir dalam sebuah jeda untuk istirahat, lalu memulai perang yang lebih besar dengan mendirikan rumah darurat yang dikelola para militer.
Puisi Salam Damai ini, salah satu dari sedikit puisi di ranah penyairan Aceh yang menggugah semua orang untuk menatap langit yang lebih biru, laut yang lebih tenang, kehidupan yang lebih manusia. Salam Damai adalah---ketika itu---secercah kesejukan; sebab telah begitu lama kita dalam duka cita/oleh amuk serakah kaum pendurhaka, takluk di hadapan pembidik/dalam kokang senjata tak berjiwa untuk menuju ke dalam sambutlah salam kami/salam damai dengan Bismillah/damai langit menjadi payung/damai bumi menjadi jejak/permadani perak Nusantara (hal 3).
Kedamaian terasa mengalir ke relung hiba pembaca ketika menyentuh puisi Cahaya Suci Matahari (Kepada para Yatim dan piatu). Puisi ini membuat sedih yang memberatkan kalbu, mengiris seluruh rasa dalam rongga hati, dan puisi ini pastilah lahir dari sebuah suasana hari raya, hari yang membuat orang teringat kepada semua yang harus diingat: dalam barisan panjang syaf itu/air mata langit mengalir di dagu/mengenang ibu/bapak di Lhokseumawe/yang hilang dalam desingan peluru/surgalah bagimu (hal 17). Suasana itu seolah ditangkap Fikar dalam sebuah mata hati yang bening ketika para malaikat naik dalam gumpalan awan dan sunyinya langit sambil membawa doa-doa anak yatim dalam talam suci untuk dipersembahkan ke hadapan Rabbi. Teringat pula kepada Rasul Muhammad ketika melihat seorang yatim di pinggir jalan pada Hari Raya Idul Fitri menangis karena tidak dapat menikmati kegembiraan karena ketiadaan tumpangan harapan. Rasul pun mengatakan: maukah jadikan aku Bapakmu?
Kedua, tema yang berisikan pemberontakan dunia ketiga. Pemberontakan bukan saja terhadap kedurjanaan yang disuguhkan dan dipaksakan untuk dimainkan dalam rumah tangga kita di Aceh, tetapi juga pemberontakan terhadap ketidakbebasan, karena seluruh ruang dan relung ekspresi itu sudah dipasangi kawat berduri, yang jika tidak pintar dalam memilih jalan, akan mengores seluruh tubuh mereka yang membutuhkan kedamaian.
Puisi Kemana yang untuk pertama kali dibuat pada tahun 1994. Sayalah orang yang pertama diperdengarkan Fikar di pojok kumuh Banda Aceh, dan kini puisi itu mengambang dan terbang serta merubung cakrawala untuk tidak lagi ditempatkan dalam ruang waktu dan tempat. Kemana menjadi universal dan perlu diingat ketika orang-orang mendirikan penjara kreativitas dimana-mana baik karena kuasa, modal maupun kesempatan, padahal kita telah lama merdeka.
Dalam tema ini ada kekesalan yang diungkapkan Fikar, karena begitu mudahnya orang Aceh mencintai dan menghargai orang lain. Rencong (hal 5) sebuah senjata tradisional Aceh yang berubah fungsi menjadi sebuah simbol penghargaan menjadi sebuah satire yang sangat mengelitik sanubari keacehan kita. Simbol penghargaan itu telah berbalik arah menjadi senjata yang memakan diri kita sendiri.
Bukan hanya rencong yang diberikan kepada tamu sebagai penghargaan, ada tarian, kalung bunga. Akan tetapi, apa yang didapatkan Aceh? Hanya rencong yang berbaju konflik dihujam ke Aceh oleh Jakarta. Fikar juga sukses dalam meramalkan sebuah konflik yang memang sudah dipersiapkan sejak awal, lewat puisinya Nyala Aceh. Fikar berhasil meramal dan merekam sebuah jejak sejarah mengenai akan pecahnya piring karena harus dikorbankan untuk membuat nyala kuning di Aceh. Tetapi masalahnya, piring yang pecah bukan hanya dua lusin, tetapi justru membakar seluruh Aceh.
Ketiga tema yang mengusung puisi untuk syair, Fikar membuat puisi atas sebuah kenyataan bahwa apa yang dirasakan, dilihat dan dirabanya haruslah menjadi syair. Membuat puisi sebenarnya adalah proses untuk merekam sesuatu menjadi sebuah kenangan bagi pembuatnya, dan ketika dibaca lain waktu, puisi itu menjadi memori yang oleh Gibran dikemas menjadi kenangan salah satu bentuk pertemuan.
Fikar dengan budaya Gayonya telah berhasil memelihara lidahnya dengan rasa Gayo, dengan mencampur antara Gayo dengan Indonesia. Fikar seolah hidup dalam sebuah pembauran yang alami. Lihatlah puisi Sebukunya, bahkan Fikar telah pula mencoba meramu gaya Rajah dan Mantra yang banyak tercecer di cakrawala budaya Aceh, terutama dari suku-suku yang tidak berbahasa Aceh.
Dalam puisinya Rajah dan Nurlapan, semangat yang oleh Orang Aceh merajah, coba diselidik oleh Fikar menjadi bagian dari style-nya, namun tidak menjadi dominan. Fikar sebagaimana penyair umumnya di Indonesia, belum berhasil menjadi pusat aliran dengan sungainya sendiri. Dia masih terpengaruh dengan berbagai kepenyairan yang sudah lama ia geluti, dan masih belum menemui jalannya sendiri untuk tegak menjadi seorang penyair khas sebagaimana yang sudah ditunjukkan Sutarji, misalnya.
* Teuku Dadek, pemerhati masalah pemerintahan, sosial, dan budaya tinggal di Meulaboh
Penulis : Fikar W Eda
Penerbit : KaSUHA
Cetakan : Edisi Khusus November 2008
Tebal : xcv+160 halaman
Buku puisi Fikar W Eda adalah sebuah estetika yang menghibur atas penderitaan yang dialami manusia Aceh. Puisi Fikar dalam buku ini menjadi sebuah cuplikan pahit dan sebagiannya adalah nestapa yang direkam Fikar atas semua yang pernah menimpa Aceh terutama konflik dan tsunami. Schopenghoer, seorang filsuf Jerman, mengatakan bahwa pangkal dari penderitaan manusia di dunia ini karena keinginan manusia (willingness), sementara alat pemuas kebutuhan tersebut sangat terbatas. Kondisi ini membuat manusia frustrasi, stres, depresi, bahkan kekurangan sarana memenuhi kebutuhan tersebut telah menjulut manusia-manusia yang punya kelebihan untuk merampas sarana yang sangat terbatas tersebut.
Filsuf eksistensialisme ini menyatakan bahwa kendati pun carut marut itu terus menghantui manusia sepanjang zaman, namun masih ada naungan atau payung yang diletakkan alam dan juga Tuhan agar manusia bisa berlindung dari kejamnya keinginan sesama manusia dan juga diri sendri. Payung dan naungan itu adalah estetika dan etika. Etika berperan untuk memberikan sebuah kenyamanan kepada manusia yang letih ketika harus memenuhi keinginannya. Jika Anda ingin mencintai seorang perempuan, namun ia menolak cinta dan keinginan Anda tersebut, maka obat estetika dapat menawarkan sedikit kesejukan, misalnya, berupa lagu-lagu cengeng-cinta yang akan menghibur dan seolah-olah diciptakan untuk bahkan sangat sesuai dengan kondisi Anda. Demikian juga pada masa diktator Suharto dulu, lagu Iwan Fals seolah sebuah puisi kecil yang dirangkum atas---seolah-olah---keinginan frustrasi yang sedang dirasakan bangsa Indonesia. Begitu pula lagu Bento, Bongkar, dan lainnya. Namun, jalan keluar ini sifatnya sangat sementara dan temporer, tidak akan mampu merawat kesejukan itu untuk selamanya.
Jalan keluar kedua adalah dengan cara etika termasuk di dalamnya agama yang mengatur pengendalian keinginan manusia lewat peraturan olah jiwa bahkan dalam beberapa tempat dikawal oleh negara. Islam mengajarkan agar manusia selalu berpuasa dan bersyukur atas apa pun yang menimpa dan keinginan yang tidak tersampaikan, sementara Budha mengatakan untuk memasuki Nirwana maka keinginan raga harus dikendalikan secara sistematis dan ketat, karenanya kehidupan Biksu amat sederhana: kepala digundulkan, makan seadanya, baju juga yang sederhana. Demikian juga dengan Kristen mengajarkan cara untuk mengendalikan keinginan dengan memperbesar cinta kasih, hampir seluruh agama dan etika memiliki caranya sendiri untuk meminimalkan keinginan tersebut.
Fikar W Eda dengan buku kumpulan puisinya yang bertajuk Rencong, adalah salah satu seniman yang sedang menjalankan peran estetika dalam kancah kesedihan dan derita panjang Orang Aceh, dari konflik yang merupakan buatan manusia sampai bencana agung yang telah mengubah seluruh wajah Aceh pesisir menjadi porak poranda dan terpaksa berbenah dalam suasana yang lebih sedikit sosialis.
Buku setebal 80 halaman berbahasa Indonesia dan 80 halaman berbahasa Inggris ini berhasil menghadirkan wajah Aceh dalam dua episode besar: konflik dan tsunami. Jika membaca buku ini, Fikar memperlihatkan dirinya sebagai seorang sejarawan yang kebetulan memilih jalur penyair untuk mencatat sebagian mozaik kemalangan dan duka nestapa yang dialami Aceh dalam melewati dua etape, konflik dan tsunami.
Dan Fikar sebenarnya juga seorang aktivis terutama dalam konflik Aceh yang penuh dengan duka-luka dari orang-orang yang tercerabut dari dunia indah ke neraka penindasan. Cuma dia memilih langkah aktivis itu dengan membuat puisi untuk merentang dan merekam semua kesombongan angkuh dari sebuah peran.
Buku Rencong ini kendatipun dominan melipur lara dan sekaligus menghibur dari ranah orang Aceh, namun memiliki nuansa nasional dan internasional yang begitu kental. Tak kurang dari Rendra, Gola Gong, Oyos Saroso H.N, DR Cristomy dari UI, yang membuat pengantar untuk menuju puisi Fikar. Bukan itu saja, puisi - puisi yang dibuat antara tahun 1994 - 2006 itu juga dibedah dalam kaca-mata ilmiah oleh kolega Fikar dari negara jiran, tercatat Prof. Dr. Siti Zaionon Ismail (UKM), Dr Ahmad Kamal Abdullah PhD yang juga seorang penyair. Dan yang lebih penting lagi, buku puisi yang diterbitkan oleh KaSUHA ini juga diterbitkan dalam dua bahasa (Indonesia-Inggris) dalam satu buku. Namun, buku ini menjadi begitu formil, karena memuat kata pengantar dari Wakil Gubernur Aceh. Saya tak tahu apa yang melatar belakangi kebanyakan seniman Aceh yang selalu meminta pengantar dari aparat pemerintah.
Buku yang berisi 60 buah puisi yang dibagi dalam tiga episode yaitu Rencong sebanyak 32 puisi, episode Rajah 15 puisi, dan episode Tsunami sebanyak 13 puisi. Puisi dikemas paling tidak dalam tiga tema besar, yaitu konflik dan damai yang semuanya masuk dalam episode Rencong. Tema ini banyak mengangkat dan mengusung sebuah kengerian sejarah yang pernah ditoreh orang-orang yang memiliki kuasa atas harta dan nyawa Orang Aceh.
Yang menarik tema ini dibuka dengan sebuah puisi Salam Damai yang dibuat pada tahun 2000. Puisi ini dibuat ketika MoU Helsinki belum berlangsung. Mungkin puisi ini lahir dalam sebuah jeda untuk istirahat, lalu memulai perang yang lebih besar dengan mendirikan rumah darurat yang dikelola para militer.
Puisi Salam Damai ini, salah satu dari sedikit puisi di ranah penyairan Aceh yang menggugah semua orang untuk menatap langit yang lebih biru, laut yang lebih tenang, kehidupan yang lebih manusia. Salam Damai adalah---ketika itu---secercah kesejukan; sebab telah begitu lama kita dalam duka cita/oleh amuk serakah kaum pendurhaka, takluk di hadapan pembidik/dalam kokang senjata tak berjiwa untuk menuju ke dalam sambutlah salam kami/salam damai dengan Bismillah/damai langit menjadi payung/damai bumi menjadi jejak/permadani perak Nusantara (hal 3).
Kedamaian terasa mengalir ke relung hiba pembaca ketika menyentuh puisi Cahaya Suci Matahari (Kepada para Yatim dan piatu). Puisi ini membuat sedih yang memberatkan kalbu, mengiris seluruh rasa dalam rongga hati, dan puisi ini pastilah lahir dari sebuah suasana hari raya, hari yang membuat orang teringat kepada semua yang harus diingat: dalam barisan panjang syaf itu/air mata langit mengalir di dagu/mengenang ibu/bapak di Lhokseumawe/yang hilang dalam desingan peluru/surgalah bagimu (hal 17). Suasana itu seolah ditangkap Fikar dalam sebuah mata hati yang bening ketika para malaikat naik dalam gumpalan awan dan sunyinya langit sambil membawa doa-doa anak yatim dalam talam suci untuk dipersembahkan ke hadapan Rabbi. Teringat pula kepada Rasul Muhammad ketika melihat seorang yatim di pinggir jalan pada Hari Raya Idul Fitri menangis karena tidak dapat menikmati kegembiraan karena ketiadaan tumpangan harapan. Rasul pun mengatakan: maukah jadikan aku Bapakmu?
Kedua, tema yang berisikan pemberontakan dunia ketiga. Pemberontakan bukan saja terhadap kedurjanaan yang disuguhkan dan dipaksakan untuk dimainkan dalam rumah tangga kita di Aceh, tetapi juga pemberontakan terhadap ketidakbebasan, karena seluruh ruang dan relung ekspresi itu sudah dipasangi kawat berduri, yang jika tidak pintar dalam memilih jalan, akan mengores seluruh tubuh mereka yang membutuhkan kedamaian.
Puisi Kemana yang untuk pertama kali dibuat pada tahun 1994. Sayalah orang yang pertama diperdengarkan Fikar di pojok kumuh Banda Aceh, dan kini puisi itu mengambang dan terbang serta merubung cakrawala untuk tidak lagi ditempatkan dalam ruang waktu dan tempat. Kemana menjadi universal dan perlu diingat ketika orang-orang mendirikan penjara kreativitas dimana-mana baik karena kuasa, modal maupun kesempatan, padahal kita telah lama merdeka.
Dalam tema ini ada kekesalan yang diungkapkan Fikar, karena begitu mudahnya orang Aceh mencintai dan menghargai orang lain. Rencong (hal 5) sebuah senjata tradisional Aceh yang berubah fungsi menjadi sebuah simbol penghargaan menjadi sebuah satire yang sangat mengelitik sanubari keacehan kita. Simbol penghargaan itu telah berbalik arah menjadi senjata yang memakan diri kita sendiri.
Bukan hanya rencong yang diberikan kepada tamu sebagai penghargaan, ada tarian, kalung bunga. Akan tetapi, apa yang didapatkan Aceh? Hanya rencong yang berbaju konflik dihujam ke Aceh oleh Jakarta. Fikar juga sukses dalam meramalkan sebuah konflik yang memang sudah dipersiapkan sejak awal, lewat puisinya Nyala Aceh. Fikar berhasil meramal dan merekam sebuah jejak sejarah mengenai akan pecahnya piring karena harus dikorbankan untuk membuat nyala kuning di Aceh. Tetapi masalahnya, piring yang pecah bukan hanya dua lusin, tetapi justru membakar seluruh Aceh.
Ketiga tema yang mengusung puisi untuk syair, Fikar membuat puisi atas sebuah kenyataan bahwa apa yang dirasakan, dilihat dan dirabanya haruslah menjadi syair. Membuat puisi sebenarnya adalah proses untuk merekam sesuatu menjadi sebuah kenangan bagi pembuatnya, dan ketika dibaca lain waktu, puisi itu menjadi memori yang oleh Gibran dikemas menjadi kenangan salah satu bentuk pertemuan.
Fikar dengan budaya Gayonya telah berhasil memelihara lidahnya dengan rasa Gayo, dengan mencampur antara Gayo dengan Indonesia. Fikar seolah hidup dalam sebuah pembauran yang alami. Lihatlah puisi Sebukunya, bahkan Fikar telah pula mencoba meramu gaya Rajah dan Mantra yang banyak tercecer di cakrawala budaya Aceh, terutama dari suku-suku yang tidak berbahasa Aceh.
Dalam puisinya Rajah dan Nurlapan, semangat yang oleh Orang Aceh merajah, coba diselidik oleh Fikar menjadi bagian dari style-nya, namun tidak menjadi dominan. Fikar sebagaimana penyair umumnya di Indonesia, belum berhasil menjadi pusat aliran dengan sungainya sendiri. Dia masih terpengaruh dengan berbagai kepenyairan yang sudah lama ia geluti, dan masih belum menemui jalannya sendiri untuk tegak menjadi seorang penyair khas sebagaimana yang sudah ditunjukkan Sutarji, misalnya.
* Teuku Dadek, pemerhati masalah pemerintahan, sosial, dan budaya tinggal di Meulaboh