12 July 2009, 08:45

Memaknai ulang permainan Aceh

Pong, Ma dan Tuhan

Oleh Dr Hasballah Saad

DALAM tradisi kanak kanak Aceh, sangat terkenal perermainan meu pet-pet (petak umpet). Ada penjaga pong, yang bertugas mengawal tonggak dimana semua pemain pada awalnya berkumpul. Posisi tertentu itu yakni “pong” adalah tempat semua pemain memulai berlari dan ada yang bersembunyi, akan kembali ke “pong”bila dikejar oleh sang penjaga itu. Semua yang ikut bermain akan berlomba kembali menyentuh pong. Siapa yang berhasil menyentuh “pong” ma ia terbebas dari kejaran sang penjaga pong. Permainan ini menjadi ajang melatih gerak motorik, kecekatan, kelihaian, taktik dan startegi para pemain, yang umumnya anak anak.

Di dalam keluarga, para anak balita selalu dekat dengan sang ibu yang dipanggil “ma”, akar kata ummi. Ma adalah “pong” keluarga. Para balita yang senang bermain, akan kembali ke pangkuan mama, manakala ada sesuatu yang ditakuti, dikhawatirkan atau sesuatu yang asing dan tidak dipahami. Mama menjadi tumpuan tempat berlindung yang aman bagi para balita, juga bagi anak anak yang lebih tua. Tidak salah jika sesorang menjerit karena sesuatu sebab, panggilannya bukan ayah atau bapak, tetapi mama. “ e… ma… e “ ( wahai mama). Para anak balita akan memanggil “mama” bila ada sesuatu ancaman, kesakitan atau kesusahan yang dianggap mengancam dirinya. Mama menjadi simbol tempat berlindung, lambang keteduhan dimana semua orang akan berlabuh,

Agama (Islam) pun memposisi mama menjadi sangat sentral. Rasulullah saw ketika ditanyai seseorang; “ Wahai Rasulullah, siapakah orang yang harus paling kita hormati di dunia ini?” Rasul menjawab dengan satu kata “ Umma ka” (Ibu mu). Sang penanya bertanya lagi “sesudah itu siapa ya Rasul?” Kembali Rasul menjawab “Umma ka” hingga tiga kali berturut turut. Baru pada pertanyaan serupa kali ke empat, Rasul menjawab “Abi ka” (Ayah mu)

Itulah pernyataan pemuliaan tinggi kepada sang Ibu dan “kaum ibu” (baca perempuan) pada umumnya. Rasulullah memulai hal itu tatkala dunia arab jahiliyah masih memandang rendah pada kaum perempuan. Pada masa itu malah bayi perempuan dikebumikan hidup hidup, karena dianggap membawa malang bagi keluarga. Penistaan perempuan sudah melampaui batas yang tidak dapat dimaafkan. Rasul saw yang membongkar tradisi itu, dan menempatkan posisi perempuan pada derajat yag lebih mulia, hatta atas posisi sang ayah (laki-laki) sekalipun. Memang ibu, mak, bunda atau ummi adalah teluk yang tuduh tempat semua perahu manusia berlabuh dengan tenang, setelah lelah mengembara dalam samudera kehidupan.

Bagaimana orang yang tak memiliki ibu? Keamana dia akan berlabuh tatkala memerlukan perlindungan, atau istirahat untuk melepas penat, tempat mengadu atas segala duka lara yang tak tertangungkan? Bayangkan pula para anak yatim piatu, atau piatu tak ber-ibu lagi, jika mereka berduka lara, mengelami kepedihan dan derita hidup. Kepada siapa sang piatu harus mengadu, dan mencurahkan isi jiwanya? Kemana dia harus kembali meminta perlindungan dan pemanjaan diri? Maka, disini Tuhan menjadi penting.

Tuhan adalah “pong” atau “mak” tempat semua orang berlabuh tenang. Tuhan maha awal dan maha akhir ! Seperti “pong” atau “ma” dari situlah balita pergi bermain, dan ke sanalah pula semua orang akan kembali, baik suka atau pun tidak suka. Bayangkan kalau tuhan tidak ada, atau tidak mau menerima kembalinya seseorang manakala dia membutuhkannya. Ini seumpama mak yang tidak mau menerima kepulangan balitanya. Alasan apapun, baik karena malu disebabkan terlalu banyak dosa atau pembangkangan, atau karena tidak tahu bagaimana cara agar dekat dan mudah kembali kepada-Nya, bukan soal. Pada akhirnya yang tidak akrab dengan tuhan akan mengalami masalah dalam proses kembalinya itu. Tentu perasaannya akan dihantui dengan ketakutan yang tiada akhir, atau malu yang tak habis habisnya, atau merasa tidak pantas kembali kepada “pong yang Mahaagung” itu.

Bagaimana pula jika orang, utamanya anak-anak balita, mempersepsi bahwa tuhan itu kejam, menghukum tanpa henti, melempar ke neraka jahannam, dan berbagai sifat tak pemaaf. Tentu kita akan mempersepsi “pong akhir” yang nmengerikan. Kita kehilangan “pong” yang teduh, nyaman, melindungi, tempat kita semua mencari akhir yang damai.

Para pemeluk kristiani menyebut pong yang agung itu dengan kalimat “rumah Bapa di surga” atau “kerajaan Alah yang damai” Kaum muslimin menamakannya dengan syurga “jannatun nain” atau “jannatun firdausi” atau sebutan lain yang menjadi lambang keteduhan, kedamaian abadi, dan bahagia tiada akhir. Ini merupakan rekonstruksi harapan, penyerahan total dan kerinduan pada sesuatu yang abadi menyenangkan. Dalam terminologi islami semua sebutan tersebut, yakni “jannatun-naim” atau “jannatun-firdausi” atau “jannatun-makwa” adalah harapan, kerinduan akan kedamaian abadi, dan kesenangan tanpa akhir.

Kearifan Aceh
“Pong” adalah kearifan yang mesti diajar kembali kepada anak-anaik Aceh, meskipun dia sulit mebayangkan wajah tuhan dan bagaimana sesungguhnya surga itu. Konsep “pong” dalam permainan meu-pet-pet (petak-umpet) itu sebagai penyerhanaan atau lebih konkrit bagaimana “mak” diperlukan dikala susah atau duka, atau pun berbagi suka.

Menarik disimak teori “big-bang” yang dianut sebagian para ahli kosmologi dan menguak asal mula kejadian alam ini. Dari satu titik beku maha pekat, meledak dengan sangat dahsyad hingga mengeluarkan gas yang luar biasa banyaknya, dan serpihan serpihan molekul amat panas dari pecahan itu terlontar oleh kekuatan maha dahsyad memenuhi jagat raya yang tanpa batas. Putaran epicentrum dalam kurun waktu yang sangat lama, telah mengubah gas menjadi benda benda langit dan saling mengitari titik yang paling induk. Mata hari dipercaya merupakan pusat epicentrum jagat raya. Dan bukan pula mustahil bahwa ada jutaan matahari yang lahir dari pecaahan zarrah yang maha awal itu dengan segala sistem nya.

Lalu konsep akhirat boleh jadi dijelaskan sebagai ketika sampai saatnya nanti, setelah makhluk mengembara di dunia dan menunggu di alam barzah, akan tiba saatnya kembali kepada yang Maha Awal, atau menyatau dalam titik amat pekat dengan kekuasaan Sang Maha Pencipta. Manusia dan semua makhluk Allah, tidak lagi memerlukan ruang dan tidak larut dalam dimensi waktu. Wallahu alam. Tapi petak umpet dan konsep “pong” dapat dijadikan media untuk menggiring pemahaman kea rah soal soal ketuhanan dan hakekat kejadian alam semesta.

Big bang telah dengan sangat mudah diterjemahkan oleh para arif Aceh masa lalu ke dalam permainan petak-umpet itu. Berawal dari pong yang satu, para pemain menyebar ke sekeliling pong hingga penjaga pong tidak dapat menjangkaunya. Akan tetapi, sejauh apapun para pemain lari, pada akhirnya kalau dia mau selamat dan terebebas dari kejaran sang penjaga pong (malaikatul maut?) maka dia harus kembali ke asal, yakni pong, tonggak dimana dia tadi mulai berlari. Dari tanah kembali ke tanah. Dalam ungkapan Aceh disebut “asai baki tanoh meu woe keu tanoh, tuhan peu gteungeh blang padang mahsya” yang artinya segala sesuatu berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah, tuhan lah yang akan membangkitkan kembali di padang mahsyar kelak, merupakan kalimat yang menjelaskan hakikat kejadian manusia dan semua makhluk hidup ciptaan Allah di bumi. Tentu pengajaran hal demikian itu tidaklah mudah bagi anak anak balita dan sebaya mereka. Konkritisasi prinsip itu diajarkan dalam permainan petak umpet, dimana pong adalah mula dari segala mula, dan ke situ pula semua orang akan dan harus kembali.

Teori big bang yang rumit, dan pesan tentang hakekat hidup telah diterjemahkan ke dalam sebuah permainan menyenangkan oleh para ahli kebajikan Aceh. Dari Yang Maha Tunggal, semua orang akan kembali ke “Yang Maha Esa” itu, tanpa kecuali kaya miskin, megah dan hina, suka atau tidak suka. Pada akhirnya semua orang dan mahkluk akan kembali ke dalam “Yang Maha Satu” itu. Menarik pula jika prinsip ini digunakan untuk memahami toeri atau paham wahdatul wujud, yang meyakini menyatunya mukhluk dengan sang khalik. Tak ada ruang lagi diantara dua essensi itu. Maka Al-Halaj sampai pada kesimpulan bahwa kalau demikian maka “Ana-al Haq” (aku lah Tuhan) yang sangat kontroversial itu.

Permainan, kesenian, hasil karya Aceh masa silam penuh dengan simbol simbol kehidupan, pesan moral, hakikat kehidupan, dan mengingatakan kita bahwa pada akhirnya hanya Tuhan lah yang “maha abadi” dan kekal selamanya. Presiden, menteri, pemilu, DPR, pangkat, kekayaan, kemegahan, pelantikan, deposito, rumah jabatan, dan mobil dinas, semua itu adalah assesoris dan mainan perentang waktu menuju “Pong Yang Maha Abadi”

Dan saya amat yakin bahwa sesuatu yang tak tampak dengan mata kepala, akan dengan sangat jelas terlihat dengan menggunakan mata hati, jika kita menggunakan perspektif intangible approach dalam menggali berbagai rahasia, pesan dan makna dalam berbagai unsur dan elemen kebudayaan, khususnya dalam kebudayaan Aceh masa lalu. Siapa yang paham, mau dan bisa melakukan itu sangat ditentukan oleh tingkat kepedulian, kearifan dan kemampuan berfikir yang sungguh sungguh terhadap khasanah budaya kita yang sangat kaya. Wallahu a’lamu bis-shawab.

* Dr Hasballah Saad adalah dosen senior di FKIP Unsyiah, dan Ketua Dewan Pembina Aceh Cultural Institute (ACI) di Banda Aceh.