19 July 2009, 08:26
Menulis dengan Merdeka
Penulis Halim Mubary
Seorang penulis adalah guru bagi pembacanya. Sebab melalui tulisan manusia bisa membongkar pikiran orang lain. (HB. Jassin) Satu tulisan, kata HB Jassin, tak lain sebagai ruang ekpresi bagi seseorang untuk menuangkan isi pikirannya. Baik berupa prosa, puisi, esai, opini dan sebagainya. Secara eksplisit, “paus” sastra Indonesia itu juga mengatakan bahwa penulis ibarat “guru” bagi pembacanya. Guru yang dimaksud Jassin, bukan yang mendikte muridnya dan menjejali silabus dan kurikulum. Sebab, bagi seorang penulis, lepas dari semua teori dan praktik itu. Seorang penulis bagaimana bisa memberi “makna” bagi karya/tulisannya. Begitu pembaca selesai membaca tulisan itu, maka ada “sesuatu” yang tertinggal di batinnya.
Menulis ibarat nelayan yang mendayung perahu di laut lepas. Begitu tulis Thomas Tyner dalam bukunya “Writing Voyage”. Anda bisa bayangkan, bagaimana seseorang melakukan perjalanan dengan menggunakan perahu yang bergerak dengan cara mendayung (tanpa layar atau mesin). Perjalanan akan terasa melelahkan dan menjemukan, bagi orang yang tak paham mengayuh biduk. Pergerakan yang pelan dan tak tentu arah akan dituju, perahu diombang-ambingkan gelombang, bahkan disaput angin di tengah laut tak bertepi. Karenanya, di sini butuh kepiawaian membaca arah angin dan mendayung. Di sini butuh waktu dan kesabaran. Nikmati saja dan jadikan perjalanan sebagai sarana rekreasi. Sekali-kali memutar arah menghindari benturan gelombang, batu karang atau perahu yang lewat.
Menulislah dengan merdeka. Dan itu sebenarnya sudah sering dipraktikkan ketika usia bayi. Mengamti bayi dengan mengamati ia menangis dan merengek minta sesuatu. Begitu rasa haus dan laparnya hilang, si bayi langsung terasa nyaman dan tangisnya pun mereda. Artinya, si bayi hanya punya keinginan untuk memuaskan diri sendiri. Inilah bedanya dengan seorang penulis, dia berkarya bukan sekedar memuaskan hasratnya, tetapi mesti didukung nalar, insting juga improvisasi agar menghasilkan tulisan yang baik. Hasilnya akan mencerahkan batin bagi pembacanya. Penulis jangan sampai “terkubur” bersama pikirannya, karenanya lepaskan pikiran itu lewat tulisan sehingga merasakan pembebasan.
Menulis, kata Eka Budianta, tak cukup pintar teknis, bukan juga keindahan bahasa, plot yang bagus atau kaya bahan, tapi apakah itu bermanfaat bagi pembaca. Apalagi bisa membakar berahi pembaca. Rakyat Aceh yang nyaris kritis semangat berperangnya, kembali menggelora ketika syair Prang Sabi yang dikarang Tgk Chik Krueng Kale dilantunkan. Ada banyak tema yang bisa menjelajahi pikiran seorang penulis. Ketika bencana tsunami melanda Aceh akhir 2004 silam, mestinya bisa juga melahirkan karya sastra besar, menjadi monumen sastra yang dikenang sepanjang masa yang tak kalah ketika dibanding karya “Ayat-Ayat Cinta” , “Ketika Cinta Bertasbih”, dan “Laskar Pelangi” yang kini menjadi buku terlaris dan difilmkan. Ingat satu karya (sastra) yang baik dan bening, bukan hanya lahir dari penderitaan, tangisan, dan ketidakadilan yang tertindas. Ia bisa hadir dalam kemilau kota besar, atau di satu udik . Keduanya akan jadi cermin bagi wajah antagonis atau pun protagonist. Memang memilih jadi penulis belum menjanjikan kehidupan yang layak di negeri kita. Nilai intelektual dan kreatifitas di kampong kita sekarang ini belum dihargai. Begitu pun tak perlu kita harus mengubur impian untuk tidak menulis. Seperti kata YB Mangunwijaya, bahwa penulis yang merdeka itu adalah penulis yang menggunakan “nurani”. Dia menulis bukan karena pesanan seseorang, bukan pula menulis karena kepentingan sayembara, lantaran tergiur dengan hadiah yang besar. Penulis nurani, ibarat bunga yang tumbuh sendiri di tepi jalan, tanpa ada merawat dan menyiramnya. Namun, bunga itu tetap tumbuh dengan perawatan alam.
* Halim Mubary, Dosen pada STAI Al-Aziziyah Samalanga.
Menulis ibarat nelayan yang mendayung perahu di laut lepas. Begitu tulis Thomas Tyner dalam bukunya “Writing Voyage”. Anda bisa bayangkan, bagaimana seseorang melakukan perjalanan dengan menggunakan perahu yang bergerak dengan cara mendayung (tanpa layar atau mesin). Perjalanan akan terasa melelahkan dan menjemukan, bagi orang yang tak paham mengayuh biduk. Pergerakan yang pelan dan tak tentu arah akan dituju, perahu diombang-ambingkan gelombang, bahkan disaput angin di tengah laut tak bertepi. Karenanya, di sini butuh kepiawaian membaca arah angin dan mendayung. Di sini butuh waktu dan kesabaran. Nikmati saja dan jadikan perjalanan sebagai sarana rekreasi. Sekali-kali memutar arah menghindari benturan gelombang, batu karang atau perahu yang lewat.
Menulislah dengan merdeka. Dan itu sebenarnya sudah sering dipraktikkan ketika usia bayi. Mengamti bayi dengan mengamati ia menangis dan merengek minta sesuatu. Begitu rasa haus dan laparnya hilang, si bayi langsung terasa nyaman dan tangisnya pun mereda. Artinya, si bayi hanya punya keinginan untuk memuaskan diri sendiri. Inilah bedanya dengan seorang penulis, dia berkarya bukan sekedar memuaskan hasratnya, tetapi mesti didukung nalar, insting juga improvisasi agar menghasilkan tulisan yang baik. Hasilnya akan mencerahkan batin bagi pembacanya. Penulis jangan sampai “terkubur” bersama pikirannya, karenanya lepaskan pikiran itu lewat tulisan sehingga merasakan pembebasan.
Menulis, kata Eka Budianta, tak cukup pintar teknis, bukan juga keindahan bahasa, plot yang bagus atau kaya bahan, tapi apakah itu bermanfaat bagi pembaca. Apalagi bisa membakar berahi pembaca. Rakyat Aceh yang nyaris kritis semangat berperangnya, kembali menggelora ketika syair Prang Sabi yang dikarang Tgk Chik Krueng Kale dilantunkan. Ada banyak tema yang bisa menjelajahi pikiran seorang penulis. Ketika bencana tsunami melanda Aceh akhir 2004 silam, mestinya bisa juga melahirkan karya sastra besar, menjadi monumen sastra yang dikenang sepanjang masa yang tak kalah ketika dibanding karya “Ayat-Ayat Cinta” , “Ketika Cinta Bertasbih”, dan “Laskar Pelangi” yang kini menjadi buku terlaris dan difilmkan. Ingat satu karya (sastra) yang baik dan bening, bukan hanya lahir dari penderitaan, tangisan, dan ketidakadilan yang tertindas. Ia bisa hadir dalam kemilau kota besar, atau di satu udik . Keduanya akan jadi cermin bagi wajah antagonis atau pun protagonist. Memang memilih jadi penulis belum menjanjikan kehidupan yang layak di negeri kita. Nilai intelektual dan kreatifitas di kampong kita sekarang ini belum dihargai. Begitu pun tak perlu kita harus mengubur impian untuk tidak menulis. Seperti kata YB Mangunwijaya, bahwa penulis yang merdeka itu adalah penulis yang menggunakan “nurani”. Dia menulis bukan karena pesanan seseorang, bukan pula menulis karena kepentingan sayembara, lantaran tergiur dengan hadiah yang besar. Penulis nurani, ibarat bunga yang tumbuh sendiri di tepi jalan, tanpa ada merawat dan menyiramnya. Namun, bunga itu tetap tumbuh dengan perawatan alam.
* Halim Mubary, Dosen pada STAI Al-Aziziyah Samalanga.